Rabu, 06 Juni 2012

JAS KULIT BUAYA ( Jangan Sekali-Sekali Kita untuk Melupakan Budaya )


JAS KULIT BUAYA
( Jangan Sekali-Sekali Kita untuk Melupakan Budaya )

Indonesia.. ya Indonesia, just only one in the world.,hanya ada satu di dunia. Indonesia Negara kepulauan yang terdiri dari beribu ribu pulau yang terhampar dari sabang sampai merauke, dan dari miangas sampai pulau rote. Dengan jumlah penduduk kurang lebih 241 juta  jiwa, yang menempati setiap daerah di tanah air ini.  Hadirin yang berbahagia pernahkah kita membayangkan, bahwa kita ini sebenarnya  hidup ditengah tengah 1.128 suku bangsa ? diantara begitu banyak logat dan bahasa, namun disatukan oleh satu bahasa, yaitu bahasa indonesia. Bahkan yang lebih hebatnya lagi logat-logat tersebut sudah tak asing ditelinga kita dan hadir dalam kehidupan kita, “sudah makan dulu sana, ada mie ayam kari special tuh…” kata salah satu iklan yang menggunakan salah satu logat daerah..dan sampai sekarang pun saya belum tau itu logat dari mana. 300 lebih kebudayaan yang pernah kita saksikan dan nikmati selama kita hidup di negri tercinta ini. Begitu cerdasnya bangsa ini, begitu hebatnya para leluhur kita yang mampu mempersatukan keberagaman yang ada menjadi satu kebersamaan yang membentuk kesatuan bangsa sampai saat ini. Luar biasa.

Hadirin yang berbahagia, Budaya yang kita punya saat ini, merupakan warisan para leluhur kita. This is a soul “Ini adalah sebuah roh/jiwa” sebuah roh yang hidup didalam diri kita masing-masing. Tanpa kita sadari, tanpa kita pelajari pun budaya itu sudah mengalir dalam darah kita. Selanjutnya tergantung dari diri kita untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan kita atau tidak, tergantung kita untuk melestarikannya atau tidak, tergantung kita untuk mempertahankannya tau tidak. Loh ko..semua itu tergantung kita? Lah..memang iya tergantung kita, tergantung diri kita.. kalau bukan kita ya siapa lagi? Apa orang Malaysia, ? orang amerika? Orang inggris? Apa orang-orangan sawah? Tentu tidak! Yang harus melestarikan, dan mempertahankan budaya kita adalah diri kita sendiri, warga Negara kesatuan republik indonesia.

Kita ketahui bersama, masalah yang kita hadapi saat ini adalah, gencarnya arus informasi yang turut juga membawa budaya asing yang tidak sesuai dengan identitas terutama norma budaya timur bangsa Indonesia. Apakah ini sebuah masalah yang besar? Ya jelas ini masalah besar, kenapa? Karena budaya-budaya asing tersebut sudah marak diadopsi oleh putra putri bangsa ini, dan yang lebih parahnya putra putri bangsa, sekarang sudah mulai meninggalkan dan tak mau belajar budaya bangsa kita. Tari-tarian daerah dianggap kuno, malu untuk mempelajarinya. Norma-norma budaya kita, nilai kesopanan sangat turun drastis. Norma kesopanan tersebut dianggap seperti “tidak keren lah”. Padahal nilai-nilai budaya bangsa kitalah yang menjalin suatu kebersamaan dalam keberagaman budaya bangsa Indonesia. Dari kebergaman, kita merasa kaya, kaya akan budaya. Kekayaan tersebut menbuat kita banggga sebagai bangsa Indonesia. Kebanggaan menjadi bangsa indonesia akan membentuk suatu kesatuan bangsa yang melahirkan kebersamaan. Kebersamaan dalam keberagaman.

Hadirin yang saya hormati, berkaitan dengan budaya sempat ada kejadian hubungan antara Indonesia dan Malaysia memanas. Karena masalah pengkalaiman budaya Indonesia oleh Malaysia. Kejadian ini bukan yang pertama kalinya terjadi, melainkan sudah berulang kali terjadi. Angklung, wayang kulit, dan batik merupakan beberapa contoh karya seni bangsa Indonesia yang kerap diklaim oleh Malaysia. Beberapa tahun sebelumnya, Malaysia juga sempat mengaku-aku lagu Rasa Sayange yang merupakan lagu rakyat Maluku sebagai lagu milik mereka  Dan puncaknya adalah ketika Malaysia menapilkan tari pendet dalam iklan pariwisatanya. Saat itu seluruh rakyat Indonesia geram melihat tindakan tersebut. Berbagai hujatan, cacian kita lontarkan ke Malaysia. Sebelumnya saya ingin mengajak hadirin untuk sejenak berfikir. Apakah untuk mengatasi hal ini, kita harus hujat malayasia? Kita harus “gayang” Malaysia? Tidak. Bukan itu hadirin sekalian. Hal itu justru akan membuat kita sama dengan mereka, sepertinya yang tidak berbudaya lagi dan mempunyai rasa malu mengklaim budaya bangsa lain. Yang harusnya kita lakukan adalah tanamkan rasa kecintaan kembali kepada budaya kita, pelajari kembali tentang budaya kita, dan melestarikannya. Tanpa kita sadari, ke “apastisan” kita terhadap budaya kita sendiri, seolah-olah budaya kita tidak diurus dan dikesampingkan. Maka timbulah peristiwa tersebut.

Hadirin yang berbahagia, maka kita sebagai putra putri penerus bangsa, harus mampu menjaga kebersamaan dan kehormatan bangsa kita, denga apa? Dengan melestarikan budaya  bangsa kita  yang begitu beragam mulai dari diri kita sendiri. Kalau bukan kita siapa lagi? Kita tidak ingin kekayaan kita dirampas oleh bangsa lain, leluhur kita sudah cukup memperjuangkan budaya kita sebagai identitas  bangsa dan warisan kepada anak cucunya. Kini giliran kita yang meneruskannya. “Jas kulit buaya” Jangan sekali-kali kita untuk melupakan budaya, karena dengan keberagam budaya akan membentuk suatu kebersamaan yang indah untuk bangsa Indonesia.
Demikianlah pidato yang bisa saya samapaikan. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada ucapan atau kata-kata yang menyinggung dan kurang berkenan dihati. Akhiru kallam billahi taufik walhidayah Wassalamualaikum wr.wb selamat malam.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management